Penerapan teknologi bioproses

Kabupaten Blora selain sebagai sumber sapi potong dan ayam buras juga merupakan wilayah hutan jati terluas di Pulau Jawa. Pembudidayaan ternak masih tradisional sehingga produktivitasnya rendah. Masalah kekurangan pakan selalu berulang setiap tahun sehingga penggembalaan ternak di kawasan hutan merupakan solusi termudah bagi masyarakat meskipun berdampak buruk bagi institusi kehutanan. Pembuatan tempat demplot untuk perbaikan manajemen budidaya ternak diharapkan dapat merubah pola budidaya ternak menjadi lebih baik. Kegiatan dilakukan di kelompok Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Rimba Lestari desa Doplang Kecamatan Jati. Metode yang digunakan adalah metode “belajar sambil melaksanakan” dan dilakukan secara bertahap.
Tahap pertama sosialisasi kegiatan yaitu penjelasan manfaat teknologi yang akan diterapkan. Tahap kedua pembuatan bangunan untuk demplot, praktek pembuatan fermentasi jerami padi, inseminasi buatan ayam buras Tahap ketiga pengemasan jerami padi hasil fermentasi (JPF), dan tahap keempat pelakasanaan perbaikan manajemen budidaya ternak sapi dan ayam buras. 15 ekor sapi kooperator dibagi dalam 3 kelompok perlakuan pakan. K1 (kontrol) berada di kandang peternak dengan pakan yang diberikan sesuai dengan kebiasaan peternak. K2 diberi pakan JPF 4 kg + dedak 2 kg dan K3 pakan yang diberikan 4 kg JPF + dedak 1.5 kg + MCPKC 0.5 kg. Pengukuran lingkar dada dan panjang badan sapi dilakukan setiap 2 minggu untuk mengetahui pertambahan bobot badan dengan menggunakan rumus Schrool. Pertambahan bobot hidup kelompok 2 dan 3 terlihat lebih tinggi dari K1, yaitu 259, 337 dan 56 gram. Hasil analisa pupuk organik dari pengolahan kotoran sapi, C/N rasionya memenuhi standar pupuk organik.
 Sementara itu, pemisahan anak ayam umur 1 hari (day old chik /doc) segera setelah ditetaskan dari induknya mempercepat masa bertelur kembali induk yaitu antara 17 – 19 hari. Diharapkan dalam 1 tahun produktivitas induk dapat ditingkatkan dari 3-4 kali menjadi 5–6 kali. Sedangkan biogas yang dihasilkan sangat bermanfaat bagi pengguna karena dapat mengurangi biaya pembelian bahan bakar, lingkungan rumah menjadi bersih, tidak berbau, pekerjaan didapur lebih singkat dan hemat dalam penggunaan alat dapur.

Manfaat dan dampak

1.Penerapan teknologi perbaikan manajemen budidaya ternak sapi melalui perbaikan pemberian pakan mampu meningkatkan produktivitas sapi. Sementara itu, penerapan teknologi perbaikan manajemen budidaya ayam buras melalui pemisahan anak dari induk segera setelah ditetaskan dapat meningkatkan produksi telur, mempercepat induk untuk bertelur kembali ( memperpendek jarak peneluran yang berturutan) menjadi sekitar 17 – 19 hari, mempercepat pertambahan populasi dan kepemilikan ayam 

2.Teknologi peningkatan nilai nutrien jerami dapat diterima peternak dan hasilnya JPF dapat diterima sebagai pakan sapi 

3.Perbaikan manajemen budidaya ternak berwawasan lingkungan dengan cara mengandangkan ternak secara berkelompok dan pemanfaatan kotoran kandang sebagai pupuk organik secara khusus sangat bermanfaat dan membantu institusi kehutanan dalam pelaksanaan reboisasi, pelestarian tanam jati dan dalam jangka panjang turut membantu mengurangi pemanasan global. Bagi peternak, perbaikan manajemen budidaya selain dapat meningkatkan wawasan, pengetahuan dan teknologi juga membantu menambah pendapatan.
 
4.Pemanfaatan biogas dapat mengurangi beban pekerjaan didapur, meningkatkan kebersihan ruangan, mengurangi biaya pembelian bahan bakar, mempercepat pekerjaan didapur

5.Pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran sapi tidak berbau dan C/N rasio memenuhi standar pupuk organic



Comments

Popular Posts