Model Integrasi Penjadwalan Produksi Batch dan Penjadwalan Perawatan dengan Kendala Due Date
Abstract
This
paper discusses the integration model of batch production and
preventivemaintenance scheduling on a single machine producing an item to be
delivered at a common due date. The machine is a deteriorating machine that
requires preventive maintenance to ensure the availability of the machine at a
desired service level. Decision variables of the model are the number of
preventive maintenances, the schedule, length of production runs, as well as the
number of batches, batch sizes and the production schedule of the resulting
batches for each production run. The objective function of the model is to
minimize the total cost consisting of inventory costs during parts processing,
setup cost and cost of preventive maintenance. The results show three important
points: First, the sequence of optimal batches always follows the SPT (short
processing time). Second, variation of preventive maintenance unit cost does
not influence the sequence of batches. Third, the first production run length
from production starting time is smaller than the next production run length
and this pattern continues until the due date. When in process inventory unit
cost is increased, the pattern will continue until a specified cost limit, and
beyond the limit the pattern will change to be the opposite pattern
Pendahuluan
Penjadwalan produksi yang tidak
mempertimbangkan aspek perawatan akan menyebabkan sebuah mesin yang seharusnya
menjalani perawatan tetap digunakan. Apabila perawatan tidak dilakukan bisa berakibat
mesin mengalami break down. Hal ini akan mengganggu kegiatan produksi. Di pihak
lain,jadwal perawatan yang tidak mempertimbangkan jadwal produksi akan
menyebabkan sebuah mesin yang sedang sibuk harus dihentikan karena harus menjalani
perawatan. Hal ini juga mengganggu jadwal produksi yang telah disusun
sebelumnya.
Dari uraian di atas dapat
ditarik beberapa akar masalah yang dihadapi, yaitu, pertama, bagian perawatan belum
menerapkan sistem perawatan preventif, meskipun data waktu kerusakan mesin, selang
waktu antar kerusakan dan biaya setiap kerusakan sudah tercatat dengan baik.
Kedua, bagian produksi menjadwal batch dalam ukuran yang konstan, padahal menurut
Dobson et. al. [1, 2] dan Halim dan Ohta [3, 4], ukuran batch yang tidak
konstan akan memberikan flow time yang lebih baik. Ketiga, data menunjukkan
bahwa kerusakan mesin terjadi pada saat produksi sedang berlangsung, sehingga
kerusakan mesin mengganggu produktivitas lantai pabrik.
Metode Penelitian
Pengembangan Model Untuk
pengembangan model integrasi penjadwalan batch dan penjadwalan perawatan pada
sistem manufaktur satu item satu mesin, didefinisikan parameter-parameter model
dan variabel-variabel model seperti di bawah ini
Parameter-parameter
model
q
: jumlah part dari satu item sejenis yang akan diproses pada satu mesin
d
: waktu penyerahan seluruh part (common due date)
t
: waktu proses per part
s
: waktu setup antar batch
c1
: biaya simpan untuk finished-part per unit per satuan waktu (satuan biaya)
c2
: biaya simpan untuk work-in-process part per unit per satuan waktu (satuan
biaya)
cPM
: biaya untuk satu kali PM (satuan biaya)
tPM
: panjang interval waktu PM
β
: parameter bentuk dari distribusi Weibull
α
: parameter skala dari distribusi Weibull
μ
: laju perbaikan mesin (konstan)
A
: ketersediaan mesin
Variabel-variabel
model:
[ ]: batch yang dijadwalkan pada posisi ke-I dalam
production run ke-k (secara backward),ik = 1, 2, …, Nk, k = 1, 2, …, g
[ ]
:
ukuran batch [ ] dalam unit
N
: jumlah batch maksimum untuk g production
run
Nk
: jumlah batch maksimum dalam production
run
ke-k, k = 1, 2, …, g
[ ]
:
saat mulai pemrosesan batch [ ]
[ ] : saat selesai batch [ ]
PM[k]
: preventive maintenance ke-k, k = 1, 2, …, g
BPM[k]
: saat mulai PM ke-k, k = 1, 2, …, g
CPM[k]
: saat selesai PM ke-k, k = 1, 2, …, g
G
: jumlah production run
ToIC[k]
: total biaya simpan part untuk k production run, k = 1, 2, …, g
TCPM
: total biaya PM
TCS
: total biaya setup
TC
: total biaya
[ ] : total biaya pada iterasi ke-ik, k dalam algoritma
TC*
: total biaya terbaik dalam algoritma
LR[k]
: panjang production run ke-k, k = 1, 2, …, g, dihitung dari awal production
run termasuk setup sampai berakhirnya production run tersebut pada solusi
terbaik algoritma
NR[k]
: jumlah batch dalam production run ke-k,
k
= 1, 2, …, g, pada solusi terbaik algoritma
Hasil dan
Pembahasan
Studi kasus
Berikut ini disajikan suatu
studi kasus dimana sebagian data berasal dari masalah nyata yang ditinjau dalam
penelitian ini. Perusahaan X adalah sebuah industri manufaktur yang memproduksi
plate-1 sebagai bagian dari rotary bracket assembly untuk kapal. Proses pada
mesin adalah frais single stage. Misalkan sistem manufaktur ini
harus memroses sejumlah part q = 200 unit, waktu setup antar batch s = 30
menit, waktu proses per part t = 20 menit, panjang interval PM konstan tPM = 60
menit = parameter bentuk distribusi Weibull β = 1,692820 dan parameter skala α
= 2857,142857, laju perbaikan konstan μ = , availabilitas target A = 98%, waktu
penyerahan seluruh part d = 5.000, biaya simpan satuan finished part c1 = US$
0,20 per unit per menit, biaya simpan satuan in process part c2 = US$ 0,10 per
unit per menit, biaya satuan PM cPM = US$ 30 per satu kali PM serta biaya
satuan setup cs = US$ 3.
Perbandingan
Solusi Studi Kasus dengan Praktek di Lapangan
Bila Perusahaan X menerapkan
jadwal produksi dengan batch konstan dengan ukuran 20 part, dan perawatan mesin
dilakukan hanya apabila terjadi kerusakan pada mesin (reactive maintenance). Apabila
problem Contoh ini dijadwal dengan batch konstan, dimana 200 part akan dibagi
menjadi 10 batch. Jika 10 batch ini dimasukkan ke dalam Algoritma [SISS] maka
total biaya untuk ukuran batch konstan ini adalah US$ 93.550,00 (lihat Tabel 3).
Sementara dengan metoda yang dikembangkan total biaya adalah US$ 89.531,58.
Kerugian lain yang mungkin terjadi dalam praktek di perusahaan tersebut adalah
kerusakan mesin terjadi pada saat kegiatan produksi sedang berlangsung.
Analisis
Sensitivitas
Untuk melihat perilaku model
terhadap perubahanparameter-parameter model dilakukan analisis sensitivitas sebagaimana
dapat dilihat pada Tabel 4. Tanda panah pada Tabel 4 menunjukkan perubahan nilai
pada kolom yang berada di atas tanda panah.
Simpulan
Model
[SISS] mengintegrasikan penjadwalan batchdan penjadwalan preventive maintenance
dengan kriteria minimisasi biaya simpan, biaya setup dan biaya perawatan preventif
(preventive maintenance/ PM). Model ini dapat menentukan jadwal produksi batch
dan jadwal perawatan preventif (preventive maintenance/PM) secara bersamaan.
Model ini mengasumsikan tidak ada part yang nonconforming selama suatu planning
horizon. Penelitian ini dapat dikembangkan menjadi
beberapatopik bahasan lebih lanjut, yaitu: Melepas asumsi bahwa tidak ada part
yang non conforming selama berproduksi. Kasus sistem manufaktur multi item yang
diproses pada satu mesin. Kasus sistem manufaktur flow shop.
Daftar
Pustaka
1.
Dobson, G., Karmarkar, U.S., and Rummel, J.L., Batching to Minimize Flow Times
on One Machine, Management Science, 33, 1987, pp. 784- 799.
2.
Dobson, G., Karmarkar, U.S., and Rummel, J.L., Batching to Minimize Flow Times
on Heterogeneous Machines, Management Science, 35, 1989, pp. 607-613.
3.
Halim, A.H. and Ohta, H., Batch-Scheduling Problems through Flow Shop with Both
Receiving and Delivery Just in Time. International Journal of Production
Research, 31, 1993, pp. 1943-1955.
4.
Halim, A. H., and Ohta, H., Batch Scheduling Problems to Minimize Inventory
Cost in the Shop with both Receiving and Delivery Just in Times, International
Journal of Production Economics, 33, 1994, pp. 185-195.
5.
Abboud, N.E., Jeber, and Noueihed, Economic Lot Sizing with the Consideration
of Random Machine Unavailability Time, Journal of Computers and Operations
Research, 27, 2000, pp. 335-351.
6.
Yeh, R.H., Ho, W.T., and Tseng, S.T., Optimal Production Run Length for Product
Sold wth Warranty, European Journal of Operation Research, 120, 2000, pp.
575-582.
7.
Kim, C.H., Hong, Y., and Chang, S.Y., Optimal Production Run Length and
Inspection Schedules in a Deteriorating Production Process, IIE Transaction, 33,
2001, pp. 421-426.
Penulis : Zahedi1* TMA Ari Samadhi2, Suprayogi2, Abdul Hakim
Halim2
Comments
Post a Comment